
Semuanya bermula dari sebuah perpustakaan kecil yang terletak di salah satu sudut kota Florida. John Blanchard, seorang perwira muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan militernya, sedang memilah-milah buku-buku yang ada di salah satu rak di dalam perpustakaan kecil itu. Dia berniat meminjam beberapa buku untuk dibacanya sebagai pengisi waktu senggangnya selagi dia menanti tugas baru dari pimpinannya. Pada saat itulah, ketika jemari tangannya sedang membolak-balikan sebuah novel romantis yang baru saja diambilnya dari rak buku bertuliskan fiksi, matanya tiba-tiba saja melihat sebuah tulisan tangan di lembaran terakhir novel itu. Tulisan tangan yang berupa nama seorang wanita itu dibuat sedemikian indahnya sampai-sampai dia seolah-olah bisa merasakan lembut dan anggunnya pribadi yang membuat tulisan itu. Hollis Maynell, itulah nama yang tergores di tulisan tangan di lembaran terakhir novel itu. Rupanya wanita ini adalah pemilik novel yang ada digenggamannya sebelum novel itu disumbangkan ke perpustakaan. Dan tulisan tangan yang indah itu adalah tulisan tangannya.
John terganggu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba saja muncul di hatinya. Dia ingin tahun sosok di balik nama itu. John akhirnya memutuskan untuk membeli novel itu walau petugas perpustakaan yang agak keberatan dengan niat John memberikan harga yang sedikit lebih mahal. Tidak hanya itu, rasa penasaran yang terus mengganggu membuat John mulai menelusuri siapa sebenanya Hollis Maynell pemilik nama yang tergores di novel itu.
Di jaman tanpa internet dan facebook, mencoba melacak keberadaan seseorang tentu saja bukanlah hal yang muda. Namun latihan militer yang dijalani John selama masa pendidikannya membentuk John menjadi pribadi yang tak gampang menyerah. Dan memang usahanya membuahkan hasil. Dari hasil penelusurannya dia tahu bahwa wanita yang membuatnya penasaran itu tinggal di New York.
John pun mulai melayangkan surat pertamanya ke alamat Hollis di New York. John sadar, mengharapkan suratnya itu dibalas Hollis mungkin sama sulitnya dengan mencari alamat dimana Hollis tinggal, tetapi keyataan bahwa usahanya yang pertama membuahkan hasil membuat John tetap mempunyai alasan untuk berharap. Maka sejak dia mengirimkan surat pertamanya itu, hari-hari John selalu diwarnai dengan penantian akan balasan dari Hollis yang selalu didambanya dengan harapan yang tak pernah pudar.
John menanti dan menanti seiring waktu berlalu. Baru setelah hampir sebulan dia menanti, pada suatu sore setelah pulang dari latihan rutinnya, John melihat sebuah amplop putih di dalam kotak surat di depan rumahnya. Mata John langsung mengenali tulisan tangan yang keindahannya dia kagumi bahkan sejak pertama kali dia menatapnya. Itu tulisan tangan Hollis. Kebahagiaan John tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Balasan singkat dari Hollis itu dibacanya berkali-kali. Bahkan kebahagiaan John menjadi semakin sempurna terlebih ketika dia menyadari bahwa isi tulisan tangan yang indah itu untuk dirinya. Hollis menghargai niat baik John yang telah mencaritahu alamatnya dan bersedia untuk menjalin komunikasi dengannya. Hollis juga senang karena tulisan tangannya dikagumi John.
John ingin sekali berjumpa dengan wanita pemilik tulisan indah yang dia kagumi itu. Dia ingin segera berkunjung ke New York sebelum masa liburnya berakhir. Sayangnya sebelum mimpinya ini menjadi kenyataan, John diminta untuk ikut wajib militer di luar Amerika sebagai bagian dari tugas barunya. Sebagai prajurit yang setia John harus patuh pada perintah atasannya walaupun itu berarti dia harus menunda kerinduannya untuk bertemu dengan wanita pujaan. Di suratnya yang terakhir sebelum dia meninggalkan Amerika John berjanji pada Hollis bahwa suatu saat nanti ketika dia diijinkan untuk kembali ke Amerika, kota pertama yang akan dia kunjungi adalah New York dan orang pertama yang akan dia jumpai adalah Hollis.
John menghabiskan masa dua tahun wajib militer di Vietnam. Selama dua tahun itu dia tidak pernah lalai mengirim surat pada Hollis dan betapa bahagianya John ketika surat-suratnya itu selalu saja mendapat balasan dari Hollis. Benih-benih cinta di antara mereka pun mulai tumbuh.
Pernah di salah satu suratnya John meminta Hollis untuk mengirimkan fotonya agar walau terpisah jarak yang jauh paling kurang dia masih bisa ditemani foto wanita pujaannya. Sayangnya permintaan John ini ditolak Hollis secara halus. Dia tidak mau mengirimkan fotonya dengan alasan cinta yang tulus tentu tidak akan memandang wajah. Sejak saat itu John tidak pernah lagi meminta foto dari Hollis. Dia pun membangun niat di dalam hatinya untuk mencintai Hollis apa adanya. Dan dia percaya pada bisikan suara hatinya bahwa pemilik tulisan yang dia kagumi ini pastilah seorang wanita yang anggun pribadinya dan syukur-syukur jelita perawakannya.
Akhirnya masa dua tahun wajib militer itu pun berakhir. John diijinkan kembali ke Amerika. John lalu menceritakan berita gembira ini ke Hollis di dalam suratnya yang dia tulis panjang lebar. Dia mengingatkan lagi rencananya untuk langsung ke New York dari Vietnam. Dia berjanji untuk membawa novel yang dulu dia beli dari perpustakaan di Florida. Dia juga ingin mengajak Hollis untuk makan malam dengannya di restauran di hari yang sama dia menginjakkan kaki kembali di Amerika. Suratnya yang panjang lebar itu dibalas singkat oleh Hollis. “Saya akan menantimu dibandara, John. Carilah seorang wanita dengan setangkai mawar merah di tangan kanannya. Orang itu adalah saya”
Maka, ketika John melangkah keluar dari tempat pengambilan bagasi menuju tempat orang-orang menanti sanak keluarga mereka yang baru tiba, matanya sibuk mencari wanita pujaan hatinya. Dan di sana, di antara barisan orang-orang yang menanti dia melihat seorang wanita seolah tersenyum padanya. Senyum termanis yang pernah dilihat John. Wanita dengan gaun warna hijau itu tampak begitu anggun. Tatapan matanya begitu lembut dan senyum manisnya menyejukan hati. John melangkahkan kakinya perlahan ke arah wanita itu. Di tangannya tergenggam novel yang siap dia serahkan kembali ke pemiliknya.
Namun…
Ketika jarak mereka kurang dari dua meter, John baru sadar, di tangan wanita itu tidak ada setangkai mawar merah seperti yang dijanjikan Hollis. Hatinya berdebar tak menentu. Apakah dia lupa akan perjanjian yang sudah mereka sepakati, John bergulat dalam hatinya. Atau mungkin dia tidak sempat mendapatkan setangkai mawar merah karena dia buru-buru berangkat dari rumah, pikirnya lagi. John baru terjaga dari lamunannya ketika wanita itu memberi tanda meminta jalan karena dia mau pergi. John baru sadar kalau dia berdiri tepat di jalan keluar wanita itu. Dia memberi jalan pada wanita itu dengan perasaan berkecamuk di dadanya, antara tak percaya dan malu. Ternyata wanita itu adalah orang asing yang tidak mengenal dirinya sama sekali.
Dan dia lebih kaget lagi…
Tepat di belakang tempat wanita bergaun hijau tadi, berdiri seorang wanita lain yang usianya hampir dua kali usianya. Matanya menatap John dengan tatapan yang sulit diartikan dan bibirnya tampak gemetar ketika wanita itu memaksa tersenyum. John menatap wajah wanita itu yang mulai keriput dimakan usia dengan tatapan penuh tanda tanya
Dan…
Ketika John menunduk menatap tangan wanita itu, dunianya serasa hancur. Di tangan kanan wanita itu yang sedang gemetar ada seuntai mawar merah. Dia tidak menyangka kalau Hollis yang tulisannya dia kagumi ternyata adalah seorang wanita tua yang usianya hampir dua kali usianya. Dia teringat kembali kata-kata Hollis dalam surat balasannya ketika dia minta foto. Cinta yang tulus tentu tidak akan memandang wajah. Sekarang baru dia mengerti apa arti kata-kata Hollis itu. Hollis tidak membohonginya, pikir John. Dia hanya tidak mengatakan yang sebenarnya.
Dia tahu bahwa mereka memang tidak mungkin akan menjalin hubungan sebagaimana yang dia impikan selama ini tetapi tidak ada salahnya kalau dia bersahabat dengan wanita tua ini. Maka, dengan rasa percaya diri yang baru mulai dibangun kembali, dia mengulurkan tangannya dan menyodorkan novel di tangannya ke wanita itu.
“Hi Hollis, saya John,” katanya. “Ini novelmu yang saya ceritakan itu. Maaf, jujur saya kaget karena Hollis tidak seperti yang saya bayangkan selama ini. Tetapi itu tidak berarti saya harus mengingkari janji yang pernah saya buat. Maukah Hollis makan malam denganku malam ini?”
“Anak muda,” kata wanita tua itu dengan bibirnya yang masih gemetar, “saya tidak mengerti apa maksud di balik semuanya ini. Tetapi wanita dengan gaun warna hijau yang tadi berdiri di depan saya meminta saya menggenggam mawar ini dengan pesan, jika kamu mengajakku makan malam maka saya harus menyerahkan mawar ini kepadamu dan menyampaikan pesannya bahwa dia sedang menantimu di restauran di seberang jalan.”
(Cerita dari Max Lucado, dikisahkan kembali dengan perubahan oleh Mans Wenge CSsR)
The biggest Challenge for love is to love the unlovable
Mans Wenge