
Ada seorang anak muda yang tampaknya sudah pasrah menanti ajal karena kanker yang dideritanya bertanya kepada dokter yang merawatnya di Rumah Sakit. Kebetulan dokter itu seorang katolik. “Dokter, saya yakin kehidupan saya ini tidak akan lama lagi. Apakah dokter tahu kira-kira apa yang menanti saya di kehidupan selanjutnya? Jujur saya takut, dokter,” kata anak muda itu. “Anak muda, minta maaf,” kata dokter itu. “Dengan jujur saya harus katakan padamu bahwa saya juga tidak tahu apa yang menanti kita di kehidupan yang akan datang.” Anak muda itu tampak kecewa. Dia berkata kepada dokter itu: “Dokter, anda seorang katolik tulen, bagaimana mungkin dokter tidak tahu apa yang menanti kita di kehidupan yang akan datang?”
Tiba-tiba dokter dan anak muda itu mendengar suara garukan halus di pintu. Dokter itu membuka pintu dan tampaklah seekor anjing lucu milik sang dokter berdiri di pintu sambil menggoyang-goyang ekornya dengan bahagia. Begitu melihat tuannya, dia melompat-lompat riang.
“Anak muda,” kata dokter itu, “Anjing saya ini tidak pernah saya bawa ke ruangan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya di balik pintu ini. Hanya satu yang dia tahu, di balik pintu ini ada pemiliknya, itulah yang membuat dia begitu bahagia menanti agar pintu segera di buka untuknya. Saya juga tidak tahu apa yang menanti kita di kehidupan yang akan datang. Tetapi ada satu hal saya yakin pasti. Di alam sana ada Tuhan Yesus yang setia menanti setiap kita. Ini saja sudah cukup untuk saya.”
Ini bukan renungan tentang kematian. Ini renungan tahun baru, sebuah refleksi tentang kehidupan baru yang kita sendiri belum tahu akan seperti apa dan bagaimana. Tahun 2021 baru saja berlalu dan tahun 2022 baru berumur beberapa hari. Sebuah awal tanpa kepastian baru saja dimulai dan kita tidak tahu apa yang menanti kita di tahun yang baru ini.
Saya cukup yakin kita punya perasaan yang sama ketika kita masih di ambang 2021. Kita tidak tahu waktu itu apa yang akan terjadi. Sekarang setelah kita melepaspergikan 2021, tabir itu sudah tersingkap. Ada yang bahagia karena tahun 2021-nya diwarnai dengan canda dan tawa. Ada yang naik pangkat dan tentunya gaji pun bertambah. Ada yang bahagia karena di tahun 2021 tangannya pertama kali merangkul tubuh mungil seorang bayi, buah hatinya sendiri. Ada yang bahagia karena di tahun 2021 dia akhirnya bisa melangkah ke depan altar atau ke penghulu dengan kekasih hati impiannya di sampingnya, dan mereka bersama-sama mengikrar janji untuk sehidup semati selamanya. Dan masih banyak lagi rentetan panjang litani bahagia yang kita alami di tahun yang baru lalu ini.
Tapi jangan lupa, ada juga sedih, frustrasi, tangisan dan air mata. Pandemic Covid yang mulai merebak di negara kita di awal tahun 2020 sampai sekarang belum memberi tanda-tanda berakhir. Bencana alam, gempa, banjir dan letusan gunung api merenggut orang-orang yang kita kasihi. Mungkin kita perlu berhenti sejenak di sini untuk memanjatkan seuntai doa pada Bapa bagi mereka yang telah mendahului kita ke rumah bapa, terlebih mereka yang menjadi korban covid19 dan juga mereka yang jadi korban beberapa bencana alam yang menimpah tanah air kita……….. Mereka telah pergi, tapi kenangan akan mereka tinggal selamanya. Dan tidak hanya itu. Ada perkawinan yang gagal, ada keluarga yang retak, ada pekerjaan yang terbengkelai, ada penyakit lain yang masih belum sembuh, ada pula janji yang teringkar tidak lama setelah diikrar. Senyum dan derai tawa juga air mata duka dan keputusasaan datang silih berganti.
Kini kita memulai lagi tahun 2022 dengan ketidakpastian yang sama ketika kita memulai tahun 2021. Akankah semua derita karena pandemi berakhir di tahun ini? Tidak ada yang tahu. Bahkan ada yang pesimis berujar, ini bukan tahun 2022 tapi tahun 2020 dua. Dan tahun lalu adalah tahun 2020 satu. Haruskah kita berputus asa? Haruskah kita jadi pesimis? Haruskah kita gentar melangkah menyongsong masa depan? Seperti anak muda di cerita di atas, kita mungkin bertanya, apakah yang menanti kita setelah ini.
Seminggu yang lalu kita merayakan Natal, kita merayakan hari kelahiran Emmanuel, Sang Allah yang mau jadi manusia agar bisa bersama kita di dunia yang tidak pasti ini. Allah dalam diri Sang Emmanuel tidak hanya datang untuk menghibur duka kita, dia datang untuk ikut merasakan kesedihan kita dan menangis bersama kita, karena itu dia tidak datang sebagai Allah yang kuat dan perkasa tetapi sebagai manusia, sama seperti kita. Dia menapaki jalan hidup kita mulai dari dalam rahim seorang wanita sampai ke rahim ibu pertiwi. Bahkan dia memilih bentuk kehidupan yang paling menderita agar dia bisa ikut merasakan setiap duka dan derita yang kita tanggung. Dia rela dilahirkan di dalam kandang hewan, bahkan tempat makan domba jadi tempat tidur-Nya.
Allah yang kelahiran-Nya baru saja kita rayakan seminggu yang lalu memberi kita kekuatan untuk melangkah di tahun yang baru ini. Kita memang tidak tahu apa yang menanti kita di tahun yang baru ini tapi ada satu hal yang kita tahu pasti, bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dalam setiap suka, tanda dan cawa Dia ada bersama kita, karena Dialah Emmanuel. Dalam setiap duka, tangisan dan airmata, dia tidak pernah meninggalkan kita, karena Dialah Emmanuel. Bahkan ketika kita tidak setia, ketika kita berlari jauh dari pada-Nya, dia tetap setia, karena dia tidak bisa mengingkari diri-Nya sendiri. Dialah Emmanuel, Allah beserta kita.
Maka marilah kita memulai tahun yang baru ini dengan membangun niat agar semakin dekat padaNya. Itu tidak berarti tidak akan ada duka dan airmata. Itu tidak berarti hidup kita akan selalu bahagia. Tidak. Allah datang untuk menemani kita melalu hidup kita, entah suka atau duka. Karena Allah tidak pernah menjanjikan pelayaran yang aman tapi Allah menyediakan pelabuhan akhir yang damai. Selamat memasuki tahun yang baru.
Mans Wenge CSsR