Kini, banyak kongregasi hidup bakti mengabdi Tuhan dengan melayani umat-Nya di bumi padang Sabana, tempat ringkik sandlewood dan wangi cendana sempat menyerbak keluar flobamora, terbang jauh melampaui nusantara. Kini, dari sudut-sudut pulaunya yang pernah gersang panggilan, putra-putri sabana diutus jauh, mengabdi Gereja di belahan bumi yang lain, bagai oase yang mencoba membawa kesegaran bagi hidup Gereja yang sedang diterpa kemarau modernisasi.

Semua ini mengundang tanya, mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Pulau Sumba yang katanya pernah diterpa kutukan yang mengharamkan benih panggilan tumbuh di atas pulau padang sabana ini?
Dua kongregasi besar pernah angkat tangan. Yesuit tiba di tahun 1889, pergi di tahun 1898. Katanya mereka sempat mengebaskan debu dari kaki mereka sebelum meninggalkan tanah Sumba sambil berujar bahwa benih panggilan tidak mungkin akan pernah tumbuh di atas tanah padang Sabana. Kepergian mereka meninggalkan domba di bumi padang sabana tak bergembala selama 23 tahun. Lalu SVD muncul di tahun 1921dan bertahan cukup lama sampai 1957. Di penghujung pelayanannya SVD mengakui tidak bisa sekaligus menghandle dua medan besar, Sumba (dan Sumbawa) dan Flores.
Tahun 1957 Redemptorist dari Propinsi Koln Jerman tiba di Sumba. Putra-putra Alfonsus yang menyandang nama Sang Penebus (Redemptoris) ini mencoba dengan tekat sealot baja menggarap ladang gersang panggilan dan menghalau kisah kutuk yang mungkin tak pernah ada. Para misionaris awal menyapa umbu dan rambu sumba dengan refrain klasik khas Redemptoris: kamu dicintai, kamu berharga di mata Allah, penebusanNya berlimpah buat kita semua.
Tahun 2007 menjadi moment bersejarah buat Redemptorist. Pada tahun itu Redemptorist merayakan ulang tahun kehadirannya di bumi padang sabana yang ke 50; emas yang didulang dari bukit tandus berkapur. Sejak itu hingga kini, bumi padang sabana terus menerus menumbuhkan benih-benih imamat dari ladangnya yang pernah gersang.

Hari ini terbukti lagi bahwa dari bukit tandus berkapur, tanah tempat ringkik kuda sandlewood berpadu dengan harum wangi cendana memenuhi antero flobamora, benih panggilan yang pernah ditabur itu berbuah imamat. Enam orang putra Alfonsus hari ini menerima sakramen urapan suci yang menjadikan mereka imam Allah yang tergabung dalam barisan para imam Kongregasi Redemptoris. Profisiat kepada Pater Gaby, Pater Hendra, Pater Gervas, Pater Hery Leba, Pater Hery Lewar dan Pater Jimy CSsR yang hari ini ditahbiskan imam. Mari kita berdoa, semoga mereka, sesuai dengan motto yang mereka pilih, “menyerahkan dirinya kepada Allah untuk menjadi senjata kebenaran” (Roma 6:13)
Mans Wenge, CSsR