SU(RAPUN): PENGORBANAN TIADA TARA

Mungkin sebagian besar yang membaca cerita ini tidak pernah mengalami bagaimana rasanya seorang anak yatim piatu merindukan suasana di dalam sebuah keluarga. Untuk saya, kerinduan itu menjadi makanan harianku. Saya rindu punya orang-orang dekat seperti yang hampir semua dari kalian miliki. Saya rindu figur seorang ayah, kasih seorang ibu, dan canda tawa saudara. Sayangnya semua itu tak pernah kumiliki dari semenjak saat saya pertama kali melihat dunia. Keluarga bagiku adalah puluhan anak-anak yang tinggal di panti asuhan, yang kisahnya tidak kurang sedih dari kisahku sendiri.

Tetapi saat saya menulis kisah ini, kerinduan saya lebih-lebih tertuju pada Su, dia yang pernah memberiku bahagia. Su membuatku yakin, kerinduanku akan hidup berkeluarga pernah hampir jadi kenyataan.

Saya tidak tahu harus memulai kisah ini dari mana. Ada banyak yang bisa saya tulis tapi belum tentu semuanya harus saya tulis. Maka saya ingin mulai kisah ini dari saat saya harus memilih di antara dua pilihan. Pilihan pertama, saya akan bergabung dengan militer Amerika di medan perang, itu artinya saya harus pergi ke Vietnam, tempat perang masih berkecamuk. Iman Kristen saya menolak perang. Maka saya memilih pilihan kedua, tetap bergabung dengan militer Amerika tetapi ke Thailand. Tidak seperti di Vietnam, di Thailand tidak ada perang.

Tahun 1974 memperkenalkan saya pada Thailand. Itu tiga tahun setelah saya bergabung dengan militer Amerika. Dan tahun berikutnya memperkenalkan saya pada Su, gadis Thailand yang saya jumpai di kebaktian Kristen di salah satu gereja di kota tempat saya tinggal. Surapun nama lengkapnya. Dia selalu menghiasi wajahnya dengan senyum dan mengisi hatinya dengan kebahagian; dan saya terpaksa mengakui bahwa saya tertular bahagianya karena berteman dengannya. Kami menjadi semakin dekat dan rasa cinta itu mulai tumbuh.

Sebagai seorang laki-laki yang tidak pernah mengalami keindahan hidup di dalam keluarga, saya ingin sekali punya keluarga sendiri. Dan itu hanya bisa menjadi nyata kalau saya mempunyai teman hidup dan kemudian anak-anak. Saya baru mempunyai keberanian mengungkapkan hasrat saya pada Su setahun setelah kami resmi pacaran. Su menyambut bahagia niat saya.

Kami pun memutuskan untuk menikah dan membangun hidup dalam keluarga sebagaimana idaman saya selama ini. Sebelum pernikahan, Surapun diwajibkan untuk mengambil beberapa test kesehatan sebagaimana sudah ditetapkan dalam aturan mliter Amerika. Sore itu, ketika dia kembali dari test kesehatan, saya melihat wajah Su tampak lebih bahagia dari sebelumnya. Saya berpikir bahwa saya tahu alasannya; karena kami akan segera menjadi suami istri. Saya tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan karena Dia masih mengijinkan saya mengalami pengalaman hidup di dalam keluarga sendiri dengan memberikan saya Surapun.  

Tiga bulan setelah pernikahan kami saya diminta untuk kembali ke Amerika. Rupanya Tuhan menjawab setiap doaku, karena saya sudah berencana untuk membangun keluarga baru bersama Su di Amerika. Dan rencana itu akan menjadi kenyataan. Su tidak bisa ikut bersama saya ke Amerika karena dia harus mengurus segala hal berkaitan dengan kepindahannya. Dan dia ingin mengambil waktu sedikit lebih lama untuk berpamitan dengan keluarga dan sahabatnya.

Semingu setelah saya tiba di Amerika Su memberi kabar pada saya lewat sebuah surat. Katanya dia baru dari rumah sakit dan katanya saya akan menjadi seorang ayah. Bahagia ini serasa sempurna. Saya tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan atas rancangan-Nya yang selalu indah di dalam hidupku.

Beberapa minggu sesudahnya saya mengirim beberapa surat untuk Su. Rupanya kondisi kehamilannya menyita waktunya. Su tidak membalas surat saya. Saya mengirim juga persyaratan yang dibutuhkan untuk mengurus kepindahannya ke Amerika. Namun kondisi kehamilannya rupanya tidak mengijinkan Su pindah ke Amerika secepat yang saya harapkan.

Beberapa bulan berlalu tanpa ada berita dari Su. Saya mulai panik. Saya juga marah karena berbagai kecurigaan muncul di hati saya. Saya pikir Su telah menipu saya. Rupanya dia hamil dari orang lain dan lebih memilih orang itu dari pada saya. Pikiran seperti ini berkecamuk di kepala saya. Saya tetap berusaha melakukan kontak dengan Su tetapi tetap tidak ada balasan. Saya menyerah. Saya kecewa. Kerinduan saya akan sebuah keluarga pudar lagi. Saya berhenti menghubungi Su.

Setelah hamper setahun, saya mendapat sepucuk surat dari Thailand. Nama pengirim yang tertera pada amplop surat itu adalah Ibu dari Su, ibu mertua saya. Saya tersentak ketika membaca surat itu. Tidak panjang. Mamanya Su memberi kabar pada saya bahwa Su meninggal saat melahirkan. Duniaku serasa hancur bersama kerinduanku. Su tidak menipuku. Tapi juga tidak mau membuatku menderita. Dia memilih diam dan menanggung derita itu sendiri. Saya seharusnya sudah bisa menduga karena memang seperti itulah Su. Dia lebih memikirkan kebahagiaan orang lain dari pada kebahagiaanya sendiri. Su pergi bersama kerinduanku untuk membangun sebuah keluarga bersamanya, dan lebih pedih lagi, Su pergi bersama buah hati kami. Begitu pikirku.

Semua ini terjadi di tahun 1977, tepat sebelum saya bebas tugas dari militer. Umur saya masih 25 tahun. Tetapi saya tidak mau mencari pengganti Su sampai saya melihat dengan mata kepala sendiri kuburnya. Saya mengirim surat kepada ibu mertua saya dan menyampaikan kepadanya bahwa saya akan ke Thailand untuk melihat kubur Su.

Sayangnya segera setelah itu ada kebijakan politik di Amerika yang melarang ex militer pergi ke Asia tenggara setelah perang Vietnam. Namun saya pantang menyerah. 23 tahun saya menanti. Akhirnya saya diperbolehkan ke Thailand pada tahun 2000. Saya memberi kabar pada ibu mertua saya tentang rencana saya ke Thailand. Ibu mertua saya berjanji akan menjemput saya di bandara.

Menatap Thailand dari atas ketika pesawat mau mendarat membangkitkan kenanganku akan Su. Kehadiran Su terasa begitu nyata. Dia belum pergi. Su pasti menyambutku dengan senyumnya dari atas sana. Air mataku menetes, entah air mata bahagia atau sedih, saya tidak tahu.

Tepat di area penjemputan saya melihat wajah yang tidak asing, walau guratan kecantikannya hampir pudar termakan usia. Saya mempercepat langkah setengah berlari menuju ke tempat ibu mertua saya berdiri. Saya menjabat tangannya dan memeluk tubuh yang mulai rapuh itu. Seperti biasa dia tetap setengah mati berbahasa Inggris. Tapi air matanya sudah berbicara banyak tentang bahagia dan juga duka yang dia alami selama ini.

Ibu Su merenggangkan pelukannya dan menarik tangan seorang gadis remaja yang berdiri tepat di samping ibu mertuaku untuk datang dekat padaku. Dia sudah berdiri di sana sejak saya memeluk ibu mertuaku dan dia ikut menangis melihat situasi haru itu tapi saya sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

Duniaku seakan terhenti di saat saya menatap wajah gadis remaja itu. Walau berurai air mata tapi wajah itu tidak dapat menyembunyikan ekspresi kebahagiaan yang hanya dimiliki Su. Saya tidak merasa sedang menatap wajah seorang gadis remaja. Wajah itu wajah Su dengan senyum khasnya yang selalu membuatku bahagia. Tetapi dia memiliki bola mata amber kekuningan, bola mata yang mirip dengan bola mataku sendiri. Bola mata yang tidak lazim di Thailand dan di Asia. Dia mewarisi semua kecantikan Su dengan rambut yang sedikit pirang, seperti rambutku.

Saya mendekap gadis itu dalam pelukanku, dan kami berdua larut dalam tangisan, disaksikan ibu mertuaku dari wajahnya yang berurai air mata. Ini pertama kali dalam hidupku saya mendekap darah dagingku sendiri. Dunia seakan berhenti berputar. Yang ada hanya kami, saya dan putriku, disaksikan ibu mertuaku. Saya tak ingin melepaskan buah hatiku dari pelukanku selamanya, tapi ibu mertuaku mengingatkan kami untuk segera ke rumah abadi Su.

Di atas pusara Su, dengan derai air mata, saya tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih padanya. Terima kasih untuk buah hati kami. Terima kasih karena dia rela mengorbankan dirinya agar mimpiku terwujud.

Dari putriku yang lebih bisa berbahasa Inggris saya mendengar semua cerita tentang Su yang dia dengar dari neneknya. Saat pertama test kesehatan Su sudah didiagnosa penyakit kanker dan dia sudah diberitahu kalau memiliki anak akan membahayakan jiwanya. Maka ketika dia dinyatakan hamil, dia dianjurkan untuk menggugurkan kandungannya. Tapi dia ingat akan kerinduanku yang selalu saya ceritakan padanya soal impianku untuk memiliki keluarga sendiri. Maka dia memutuskan untuk menanggung resiko, apapun itu. Saat sebelum melahirkan, dia berpesan, seandainya dia meninggal saat melahirkan dan seandainya anak yang dilahirkan hidup, saya tidak boleh diberitahu soal itu. “Kalau dia benar mencintaiku, dia akan datang menyambangi pusaraku dan akan bertemu dengan putrinya sendiri” begitu pesan Su pada Ibu Mertuaku yang dikisahkan kembali oleh putriku.

Saya yakin sekarang Su sudah berbahagia di atas sana. Dan saya yakin juga, dia akan mendoakan rencana saya dan putri kami untuk pindah ke Amerika. Karena itu pulalah kerindukanku dan Su sebelumnya. Dan kami berjanji untuk selalu mengunjungi pusaranya setiap tahun.

(Dari kisah Larkin Huey yang ditulis dalam buku A Cup of Comfort for Christians

dan dikisahkan kembali dengan penyesuaian oleh Mans Wenge)   

Unknown's avatar

About Berkhmans

Melalui blog ini saya mau membagi pengalaman dan refleksi saya di dalam pergulatan hidup di dunia ini dan di dalam perjuangan memahami kehendak Allah dan semakin dekat pada-Nya dari hari ke hari.
This entry was posted in Sharing Cerita, Sharing Cerpen. Bookmark the permalink.

Leave a Reply