
St. Alfonsus, di dalam tulisan-tulisan teologinya selalu menggambarkan Allah sebagai sosok yang tergila-gila karena cinta-Nya pada manusia. Terlebih di dalam paparannya tentang misteri inkarnasi yang secara khusus di tulis di dalam bukunya The Incarnation, Birth and Infancy of Jesus Christ, St. Alfonsus, mengutip St. Thomas Aquinas, mengatakan “Allah itu tidak akan bahagia walau tinggal di surga kalau manusia masih hidup jauh darinya.” Bahkan dia menegaskan lagi pandangan yang sangat berani dari St. Thomas tentang hubungan Allah dan manusia. Mengutip St. Thomas dia menulis, “Allah itu saking mencintai manusia sampai-sampai Dia menjadikan manusia seolah-olah Allah-Nya sendiri.” Pandangan St. Thomas ini menjadi inspirasi bagi ungkapan St. Alfonsus yang terkenal: “lubuk hati manusia adalah surga bagi Allah.”
St. Alfonsus mengawali uraiannya tentang misteri inkarnasi Allah di dalam bukunya ini dengan mengutip injil Lukas 12:49 “Aku datang membawa (melemparkan) api ke bumi dan betapa Aku berharap api itu sudah menyala.” Api di sini menurut Alfonsus adalah simbol cinta. Jadi, tujuan Yesus datang dan menjadi manusia adalah untuk menyalakan api cinta di dalam hati manusia karena sejak penciptaan hingga sebelum terjadinya peristiwa inkarnasi, Allah selalu tidak puas dengan balasan cinta dari manusia. Manusia cenderung tidak mencintai Allah dan menjauh dariNya. Maka Allah, sebagaimana digambarkan oleh Alfonsus, perlu membuat dirinya kelihatan (Titus 2:11) agar manusia bisa mencintai-Nya.
Allah selalu berusaha mencari cara “membujuk” manusia untuk bisa mencintai Dia seperti Dia sendiri telah terlebih dahulu mencintai manusia (love seeks love). Di dalam bukunya The Practice of The Love of Jesus Christ, yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh almarhum P. Franz Pfister, CSsR, St Alfonsus menulis bahwa Allah akhirnya menemukan bahwa hati manusia secara kodratnya tertarik dengan hadiah/pemberian. Maka Allah mulai berpikir untuk memberi hadiah pada manusia. Lalu Allah memutuskan untuk menciptakan hadiah sebelum Dia menciptakan manusia. Allah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Allah menciptakan segala macam hewan, tumbuhan, burung di udara dan juga ikan di lautan. Ini semua adalah hadiah istimewa yang akan Dia berikan kepada manusia setelah manusia diciptakan. Dengan melakukan semua ini Allah berharap manusia akan membalas cintaNya dan setia kepadaNya. Sayangnya dambaan Allah ini masih jauh dari harapan. Manusia tidak sesetia yang Allah harapkan. Manusia terus menerus jatuh dalam dosa.
Kenyataan ini, menurut St. Alfonsus membuat Allah penasaran. Dia sudah habis-habisan mencintai manusia. Dia sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan hati manusia. Namun balasan cinta dari manusia masih jauh dari harapanNya. Allah dipenanya Alfonsus di dalam bukunya The Incarnation, Birth and Infancy of Jesus Christ menjadi Allah yang “baper” lantaran manusia jauh dariNya. Bahkan Alfonsus menggambarkan bahwa segala sesuatu yang dimiliki Allah di surga seolah-olah menjadi tidak berarti bagiNya kalau Dia kehilangan manusia. Alfonsus dengan imaginasinya menggambarkan keresahan hati Allah ini dengan percakapan monolog yang dibuat Allah di dalam hati-Nya.
“And now, what I have here”, saith the Lord, “for my people is taken away from me? What delight have I left in heaven, now that I have lost men, who were my delight?”
“But how is this, O Lord?” “Thou hast in heaven so many seraphim, so many angles; and canst thou thus take to heart having lost men? Indeed, what need hast Thou of angels or of men to fill up the sum of thy happiness? Thou hast always been, and Thou art in Thyself, most happy, what can ever be wanting to Thy bliss, which is infinite?”
“That is all true,” says God; “but losing man, I deem that I have nothing.”
Allah di sini seolah-olah sedang bergulat dengan diriNya sendiri. Dia menghitung semua yang Dia miliki, termasuk para malaikat dan seraphim. Tidak bisakah mereka ini jadi sumber kabahagiaanNya? Kesimpulan Allah pada bagian akhir dari monolog di atas mengagumkan, “Kehilangan manusia bagi Allah rasanya seperti tidak memiliki apa-apa.” Sayangnya, kenyataannya dosa telah memisahkan manusia dari Allah yang mencintaiNya.
Kenyataan ini, menurut St. Alfonsus yang mengutip St. Bernardus, menempatkan Allah pada dua kemungkinan keputusan sulit dimana salah satu dari dua keputusan ini harus Dia ambil. Ini berkaitan dengan dua kodratnya sebagai Yang Mahaadil dan sekaligus sebagai Yang Mahabelaskasih. Kemahaadilan Allah menuntut manusia yang tidak setia itu dihukum, sebaliknya kemahabelaskasihan Allah menuntut manusia yang tidak setia itu diampuni. Sayangnya kenyataan ini seperti buah simalakama bagi Allah. Jika manusia dihukum, Allah tidak lagi Allah yang berbelas kasih. Sebaliknya bila manusia tidak dihukum Allah tidak lagi Allah yang Mahaadil. Lalu Allah mengambil jalan tengah yang bijaksana, yang di dalam bahasa Latin digambarkan dengan ungkapan: moriatur, qui nihil debeat morti (Dia yang harus mati untuk menebus dosa itu harus tidak punya utang dosa atau tidak berdosa). Dengan kata lain,harus tetap ada yang dihukum karena pelanggaran manusia tetapi yang dihukum itu harus yang tidak bersalah supaya tetap berimbang antara keadilan dan belas kasih. Di sini jelas, yang tidak berdosa yang harus dihukum mewakili yang berdosa ini tidak mungkin berasal dari dunia karena tidak ada seorang pun yang ada di dunia yang tidak berdosa.
St. Alfonsus kemudian dengan daya imaginasinya membayangkan dialog yang terjadi di surga sebelum peristiwa mulia inkarnasi terjadi. “Berhubung di dunia tidak ada orang yang benar-benar tidak bersalah”, demikian kata Allah Bapa sebagaimana yang dibayangkan St. Alfonsus memberi pengumuman ke seluruh penghuni Surga, “siapa yang merelakan diri mau jadi penebus manusia segera maju ke depan?” Surga lengang, begitu St. Alfonsus menulis. Tidak ada suara dari para malaikat, kerubim juga seraphim. Lalu terdengarlah suara dari Sabda Ilahi, satu-satunya Anak Kandung Allah: “Inilah Aku, utuslah saku”. Allah Bapa, begitu menurut St. Alfonsus, masih mencoba menjelaskan betapa sulitnya misi perutusan yang untuknya Sang Putra telah merelakan diri. “Pikirkanlah terlebih dahulu AnakKu, keinginanMu untuk menanggung beban dosa manusia akan mengarahkan hidupMu ke suatu penderitaan mahadahsyat.” Sang Putra tak bergeming. “Inilah Aku, utuslah Aku.” “Pikirkan lagi Anakku,” Allah Bapa belum mau menyerah, “Kamu akan dilahirkan di gua, tempat bernaungnya hewan-hewan liar dan buas, kamu akan berlari dan menyingkir ke Mesir agar bisa selamat dari penguasa yang berniat membunuhMu, kamu akan kembali ke Nazareth dan hidup sebagai anak tukang kayu yang sederhana, kamu akan dibenci oleh kaum Farisi dan ahli taurat, puncak dari semua itu, kamu akan di tangkap, diadili, dan dihukum mati dengan cara disalibkan.” Keputusan dari Sang Putra tidak berubah. “Inilah Aku, utuslah Aku.”
Keputusan ilahi itu membuka pintu baru bagi misteri penyelamatan manusia. Malaikat Gabriel diutus ke seorang gadis kecil dan sederhana bernama Maria. Dengan jawaban “aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanMu,” Maria setuju untuk mengambil bagian dalam misteri penyelamatan manusia yang direncanakan Allah. Lalu Putra Allah itu pun akhirnya jadi manusia, dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria. Mengapa dikandung dari Roh Kudus? St. Alfonsus menjelaskan, karena misi kedatangan Allah Putera kedunia adalah misi cinta kasih, misi khusus untuk memenangkan hati manusia agar bisa mencintai Allah. Dari ketiga pribadi Allah, Roh Kuduslah yang bertanggung jawab dalam urusan tentang Cinta.
Mans Wenge CSsR