
Ketika pagi datang, gadis itu tersenyum menyambut mentari. Pagi datang memberikan damai kepadanya untuk melalui harinya yang penuh derita. Dan ketika malam datang, gadis itu pun melepaspergikan mentari dengan senyum tulusnya. Ia tabah menanti damai dalam mentari di hari baru.
* * *
Pagi masih temaram. Mentari belum menyembul di balik bukit. Tetapi suasana kota sudah mulai ramai, bahkan memang selalu ramai. Segelintir orang menyebutnya kota yang tak pernah tidur, seperti sebutan untuk Kota New York: The City Never Sleeps. Tetapi anehnya, ada juga yang menyebutnya kota petiduran, atau tepatnya kota yang menjanjikan ranjang-ranjang kenikmatan. Itu tak asing bagi mereka yang telah menelusuri lika-liku lorong-lorong gelapnya. Sama saja tentunya, karena untuk itu orang tidak tidur.
Pada salah satu sudut kota itu berdiri dengan megahnya sebuah bangunan berlabur putih. Tampaknya seperti sebuah asrama karena ada banyak kamar dengan pintu-pintunya saling berhadapan, dipisahkan oleh lorong di tengahnya.
Di rumah itu, di dalam sebuah kamarnya yang tak begitu luas, di atas ranjang empuk berseprei putih duduk seorang gadis, muda dan cantik, dengan kepala tertunduk sambil tangannya mendekap lutut. Rambutnya yang panjang tergerai menyentuh halus kulit mulus tubuhnya. Ia tak berbusana. Bugil. Lekak-lekuk tubuhnya menjanjikan keindahan, sesuatu yang kini membuatnya terluka. Keindahan telah menghantarnya untuk berpijak pada tepi jurang maut, dan keindahan itu tetap berada di seberang jurang, tak terjangkau.
Bersebelahan dengan kamarnya ada Dora, sahabat sekaligus musuh akrabnya. Mungkin ia sedang terbuai dalam sejuta mimpi semunya. Ahhh…tidak perlu harus tidur kalau mau bermimpi. Toh, entah itu mimpi dalam tidur atau impian yang sungguh disadari tetap akan berhadapan dengan kata mustahil kalau hati berniat menjadikannya kenyataan, pikir gadis itu. Ia sudah bosan bermimpi.
Teringat kata-kata Dora saat pertama kali membuat dia menyadari arti keindahan miliknya.
“Kamu cantik, non.” Dora membuka percakapan dengan gaya khasnya yang super gaul.
“Kamu seksi. Bentuk tubuhmu bagus. Ini anugerah yang tak boleh disia-siakan.”
Gadis itu terdiam. Mungkin bosan, karena Dora bukanlah orang pertama yang melontarkan kata cantik padanya. Sudah terlalu banyak. Tapi Dora bukanlah Dora kalau dia gampang menyerah.
“Keindahan jadi sia-sia kalau tidak untuk kenikmatan.”
Gadis itu tersentak, mencoba merenungi makna kata-kata Dora. Ini yang belum pernah mampir di telinganya. Ia bingung karena belum mengerti dan ia ingin mengerti.
“Yang kutawarkan kepadamu bukan hanya soal kenikmatan, tetapi sumber dari kenikmatan itu sendiri. Apakah yang tidak bisa dibeli dengan uang?”
“Apa maksudmu, Ra?” Gadis itu bertanya dengan raut wajah ingin tahu.
“Gampang. Semua orang bingung pada awalnya, tetapi tidak lagi setelah bertemu dengan Mami.”
Itulah awal dari semua yang sekarang sedang Ia jalani. Dan hanya satu yang ia tahu, ia masih bermimpi.
* * *
Gadis itu berkeringat. Semakin dalam ia merenung, semakin deras keringat itu mengalir dari tubuhnya. Dan hal itu membuat dia terluka. Tubuh itu bukan lagi miliknya. Keringat itu juga tidaklah murni keringatnya. Ingin rasanya Ia memisahkan diri dari tubuhnya, tetapi ia tidak bisa.
Keringat semakin deras mengalir, membasahi seluruh tubuhnya. Tak ada bagian dari tubuhnya yang tak basah. Dan ia merasa seluruh tubuhnya telah dilumuri dosa. Seluruhnya.
Terbayang pergulatannya semalam, ketika tubuhnya harus bersatu dengan tubuh si tua pemilik perusahaan besar terkenal di kota ini. Dengan beberapa lembar rupiahnya Ia merenggut tubuh gadis itu menjadi miliknya. Hampir semuanya. Sungguh tragis, bahkan sampai keringat pun tak pernah menjadi miliknya sepenuhnya.
Keringat semakin deras mengalir, keluar dari pori-pori tubuhnya dan membasahi kulitnya. Ia menjadi asing dengan dirinya sendiri.
“Kalau kamu sedikit pintar, manis, kamu dapat memiliki semuanya. Asalkan kamu hanya dengan Om.” Demikian ucapan si tua sambil merapikan ikat pinggangnya saat bergegas mau pulang. Gadis itu hanya mengangguk, anggukan yang sama ketika pelanggan lain pun berkata demikian. Anggukan yang terpaksa dia buat demi lembaran rupiah. Entah anggukan yang ke berapa, ia tidak pernah berniat menghitungnya. Sudah terlalu banyak. Anggukan yang sama untuk pelanggan yang berbeda.
Pagi tidak lagi temaram. Mentari sudah mulai menyembul di balik bukit. Suasana kota pun menjadi semakin ramai. Gadis itu bergegas turun dari ranjangnya. Masih bugil. Rambutnya yang panjang tergerai mengusap mulus pinggulnya yang seksi. Ia melangkah ke jendela, menyibakkan kain gorden, dan membiarkan sinar matahari pagi menjenguk kamarnya. Ia menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengais damai sebanyak mungkin dari setiap partikel udara yang dihirupnya. Ia tersenyum menyambut mentari.
Sinar mentari pagi membelai mulus tubuhnya dan menghalau peluh nista dari mulus kulit tubuhnya. Ada damai yang ia rasakan, damai yang tidak datang dari kenikmatan. Ia tau kalau ia mempunyai seorang sahabat, sahabat yang setia mengucapkan selamat pagi kepadanya ketika alam mulai menggeliat menyongsong hari dan yang selalu pamit padanya ketika ia hendak beranjak ke peraduan, meninggalkan mayapada dalam temaram senja menyambut malam. Sinar mentari, itulah yang selalu menemaninya. Itulah sahabatnya. Mentari tidak pernah melukainya. Mentari tidak pernah menyakitinya. Mentari mencintainya. Ingin rasanya ia memiliki mentari untuk dirinya sendiri, tetapi itu tidak mungkin. Mentari jauh dari jangkauannya, sejauh mimpinya dari kenyataan.Tetapi ia bersyukur karena jarak itu membuatnya mempunyai kerinduan, rindu akan kehadiran mentari yang selalu menemaninya ketika hari baru mulai merekah.
Gadis itu memejamkan matanya. Kedua tangannya mendekap dada. Rambutnya yang panjang tergerai tampak berkilauan diterpa sinar mentari. Ia sungguh indah di bawah mentari.
Keringat di seluruh tubuhnya telah mengering. Tetapi kini ada lagi yang membasahi tubuhnya, membasahi pipinya yang merona merah. Gadis itu meneteskan air mata. Ia menangis karena mentari. Ia terharu karena cinta mentari, dan ia teringat akan Sang Empunya mentari. Oh…sungguh jauh Aku dari-Nya, sejauh diriku dengan mentari, sejauh mimpi-mimpiku dari kenyataannya, gadis itu membatin dalam ratapan hatinya. Air matanya semakin deras mengalir dari kelopak matanya, membasahi pipinya, dan turun ke tubuhnya. Dan pedih mulai datang mengusir damai.
Masih adakah tempatMu bagiku di sudut hatiMu? Masih adakah namaku tergores di telapak tanganMu? Ia menghujani dirinya dengan pertanyaan yang tak pernah bersua dengan jawaban bahkan sepenggal pun. Ia rindu kembali tetapi ia tidak tahu kemana dan kepada siapa ia harus kembali. Ingin rasanya ia berlangkah keluar dari rumah ini dan mengucapkan selamat tinggal padanya untuk yang terakhir kalinya, namun itu sama beratnya dengan memisahkan diri dari tubuhnya agar terbebas dari dosa yang meracuni raganya.
Lima tahun yang lalu ia masih sama dengan orang-orang lain yang berseliweran di luar sana. Masih akrab di ingatannya kebiasaan rutinnya setiap hari Sabtu sore, berarak ramai bersama teman-teman sebayanya memasuki pintu kapel tua di pinggir jalan untuk mengikuti kebaktian. Ia pun tidak asing dengan refren klasik dari pastor tua keturunan Eropa: Engkau berharga di mata Allah, Engkau dicintai Allah, Namamu tertulis di telapak tangan-Nya. Waktu itu ia sampai bosan mendengar rangkaian kata-kata itu. Tetapi kini, ia rindu untuk mendengarnya kembali. Ia rindu pada kapel tua, ia rindu pada bangku di pojok kanan depan yang biasa ia tempati, ia rindu pada pastor tua itu. Ah…seandainya adegan kehidupan ini dapat dipentaskan kembali.
Mentari pukul 07.00. Gadis itu beranjak kembali ke ranjangnya, duduk di atasnya dengan kepala tertunduk sambil tangannya mendekap lutut. Ia siap menyambut hari dengan adegan kehidupan yang tak pernah baru.
Tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk orang dari luar.
“Siapa?” gadis itu bertanya tanpa memalingkan wajahnya.
“Mami. Pukul 10.30. Ingat, berikan yang terbaik.”
Mami berlalu, pergi bersama impian sang gadis untuk mendapatkan hidupnya, tubuhnya, dan keindahannya. Tinggallah gadis itu sendiri, tetap pada ranjangnya, ditemani sinar mentari.
* * *
Jarum panjang jam dinding di kamar gadis itu menyentuh angka 6 dan jarum pendeknya berada di antara angka 10 dan 11 ketika pintu kamarnya diketuk orang dari luar. Tiga ketukan lembut pertama tak dihiraukannya. Ia tetap duduk terpaku menatap jendela, mengagumi bias cahaya mentari yang semakin meninggi. Tiga ketukan lagi terdengar lebih keras. Gadis itu mencoba mengukir sebuah senyuman di bibirnya, senyum yang tak pernah tulus karena tidak dari hatinya. Kemudian dia membuka suaranya menghentikan kemungkinan datangnya tiga ketukan berikutnya.
“Masuk saja, mas. Tak pernah dikunci kok”
Kata-kata ini selalu menggores luka di hatinya. Kamarnya, hidupnya, tubuhnya, keindahannya tak pernah terkunci. Semua orang boleh menikmatinya lalu pergi meninggalkan luka.
Gadis itu mendengar suara pintu dibuka dan langkah kaki yang perlahan mendekatinya.
“Wah…kamarmu cantik sekali. Semua yang kau letakkan di kamar ini sepertinya pas pada tempatnya. Juga sinar mentari yang bebas menjenguk masuk. Semuanya jadi berkilau bermandi cahaya.”
Gadis itu tetap diam. Ini baru sehelai bulu domba, pikirnya. Ia menanti tanggalnya bulu-bulu domba yang lain sampai musangnya kelihatan.
“Apakah semua yang kau sentuh akan menjadi keindahan?”
Gadis itu tertegun, rasanya dia pernah mendengar kalimat seperti itu, tapi entah kapan, entah dimana, dia tidak tahu.
“Mengapa kamu diam saja? Apakah kamu dilarang berbicara?” Tanya laki-laki itu penasaran.
“Satu jam buatmu sudah dihitung sejak langkah pertama kau ayunkan kakimu melewati pintu kamar ini. Mengapa kita tidak segera bercinta?” gadis itu balik bertanya tanpa membalikan badannya. Dia tahu baik, laki-laki suka bermain dengan rasa penasaran dan ingin tahu. Keterbukaan yang tidak sepenuhnya selalu menantang mereka. Dan dia senang mempermainkan kelemahan laki-laki yang satu ini.
“Siapakah namamu?” Tanya laki-laki itu lagi.
Gadis itu terkejut. Tidak biasa pelanggannya ingin mengetahui namanya. Mereka hanya ingin bercinta, bercinta, dan bercinta lagi. Dia ingin menguji laki-laki itu.
“Apakah artinya sebuah nama? Bunga mawar tetap memiliki harum dan kembang yang sama walaupun namanya diganti dengan melati, angrek, lili, atau apa saja. Bukankah demikian juga diriku? Setiap nama yang ada padaku betapa pun indahnya akan ternoda oleh nistaku.” Gadis itu seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Nama tanpa pribadi adalah awal dari kehancuran dan pribadi tanpa nama adalah suatu keterasingan,” kata Laki-laki itu. “Setiap orang yang tidak membutuhkan nama akan menjadi budak kehidupan. Segala-galanya tidak akan pernah menjadi miliknya. Hidupnya, tubuhnya…”
Gadis itu tersentak. Dia membalikkan badannya sebelum laki-laki itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Kata-kata seperti itu dulu sering didengarnya. Terlalu sering malahan. Dan dia tertegun tak percaya pada apa yang dilihatnya.
“Mas Alex…..”
Bibir gadis itu gemetar menyebut nama yang dulu selalu disebutnya, lima tahun yang lalu. Dia tertegun seolah tak percaya bahwa laki-laki yang sekarang berdiri di hadapannya adalah pemilik nama itu.
Dia beringsut ke sudut ranjang ketika laki-laki itu mengayunkan langkah perlahan mendekatinya. Baru dia sadar, dia tidak berbusana. Dengan cepat direnggutnya seprei putih di atas kasurnya dan membungkus tubuhnya alakadarnya. Dia masih tak percaya. Dia berharap ini semua hanya mimpi.
“Dek, kenapa kamu ada di sini?”
Laki-laki itu enggan melanjutkan langkah mendekati gadis itu. Dia duduk di tepi ranjang yang lain, sambil matanya terus menatap wajah gadis yang dulu dipujanya. Bukan tatapan tajam yang menghakimi, bukan tatapan sinis yang mencelah, tapi tatapan kasih karena rasa belas kasih. Dia jarang menyapa gadis itu dengan namanya, kecuali di saat hatinya terbuai oleh cintanya kepada pemilik nama itu. Dan kenangan itu pun muncul lagi bagai diputar ulang di dalam benaknya.
Waktu itu, kurang lebih lima tahun yang lalu, mereka berdua sedang melepaspergikan senja dan menyambut datangnya malam menyelimuti bumi. Hanya berdua di tepi pantai di atas pasir putih. Ketika mentari beranjak pergi dan gelap datang menyapa, kerlap-kerlip bintang menjadi keindahan istimewa yang menghiasi mayapada.
“Aku ingin menjadi bintang,” kata laki-laki itu. “Dengan bintang, pekat yang paling gelap sekalipun akan menjadi indah.”
“Tapi bintang terbuai dengan kebanggaan semu di masa lalu, Mas.” Gadis itu selalu punya ide cerdas untuk berdebat dengannya. Dan itu yang membuat laki-laki itu tidak bisa tidak kecuali jatuh cinta padanya.
“Bintang itu jaraknya ratusan tahun cahaya dari kita, Mas. Mungkin bintang itu sudah tidak ada sejak ratusan tahun yang lalu, tetapi cahayanya baru sampai ke kita. Kita terpesona mengagumi keindahan dari sesuatu yang belum tentu masih ada.” Laki-laki itu tertegun kagum pada kecerdasan sederhana gadis itu. Dan itu bukan pertama kalinya ia dibuat kagum.
“Lalu kamu, apa yang kamu puja, dek?”
“Aku pemuja mentari, Mas.” Jawab gadis itu, dengan mata terpejam dan senyum manis yang tulus di bibirnya. “Mentari tak pernah berdusta. Dia pergi di ujung hari tapi tidak untuk selamanya. Dia selalu kembali di awal setiap hari baru untuk mereka yang memujanya.”
Sejak saat itu, laki-laki itu membangun niat dalam diam untuk menjadi sang mentari pujaan gadis kecilnya. Dia tidak tahu kalau niatnya kelak menempuh jalan panjang dan berliku.
“Mas tahu dari mana kalau aku di sini?” Suara lembut gadis itu di selah tangisannya membuyarkan lamunan laki-laki itu akan masa lalu mereka berdua.
“Saya tidak tahu dari mana Dora dapat nomorku. Dia menghubungiku dua hari yang lalu. Dia sudah cerita semuanya. Saya kesini untuk mengajakmu pulang, dek. Rumahmu bukan di sini. Mimpimu juga bukan di sini. Kita pernah bersama bermimpi dan kita masih punya waktu untuk mewujudkannya. Masih belum terlambat dek.”
Gadis itu tak mampu menahan butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dulu dia pernah mencoba menahan tangis di hadapan laki-laki itu. Tetapi laki-laki itu berkata kepadanya bahwa Tuhan terkadang mengambil sebagian dari beban hidup kita dan membungkusnya dengan butiran air mata. Ketika kita menangis dan membiarkan air mata kita jatuh, beban kita pun akan berkurang. Sejak saat itu dia tidak pernah mampu menahan tangis di hadapan laki-laki ini.
“Mas, aku bukan gadismu yang dulu. Aku menghidupi kehidupan yang bukan milikku. Aku bangga pada keindahan di tubuhku yang juga bukan milikku. Bahkan sampai keringat dan hasilnya pun tidak pernah menjadi milikku sepenuhnya. Aku sudah tidak punya apa-apa untukmu, Mas” Gadis itu menarik napas panjang dan masuk dalam lautan duka mahaluas. Laki-laki itu telah mendobrak benteng dirinya dan masuk dalam rahasia hidupnya yang paling dalam. Tangisannya semakin dalam dan dia merasa bahagia karena tangisan itu. Selama ini dia lebih sering menangis di balik sebuah senyuman. Sekarang dia ingin menangis sepuas-puasnya di hadapan laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Hanya laki-laki itu dan mentari yang telah mendengar tangisan tulusnya.
Ia tidak mengelak ketika Laki-laki itu duduk di sampingnya, memeluk pundaknya, dan menariknya ke dalam dekapannya. Ia merasa bahagia.
“Aku mencintaimu apa adanya, dek. Kita hanya sedang diuji. Kalau cinta itu ibarat mawar, kita sedang menggenggam durinya. Tetapi bahkan dengan duri-durinya itu mawar tetap menjadi kembang yang selalu dikagumi. Aku sudah berbicara dengan Mami. Aku akan datang lagi besok pagi dan menjemputmu keluar dari tempat ini. Kita akan bersama merajut mimpi yang dulu pernah kita bangun.
Gadis itu mendengarkan setiap perkataan laki-laki pujaannya dengan perasaan bercampur aduk. Tetapi satu hal dia yakin pasti, di balik setiap kata itu dia menemukan ketulusan. Nuraninya berkata demikian.
* * *
Mentari hendak beranjak ke peraduanya meninggalkan gadis itu sendirian dalam kamarnya. Ia terpekur sendiri di atas ranjangnya. Dengan lengannya mendekap lutut ia bermain dengan pikirannya sendiri. Ia mengenang semua yang telah mengisi harinya. Ia mengenang hidupnya. Ia mengenang laki-laki yang dulu pernah dipujanya dan yang kini hadirnya membakar kembali api cintanya yang telah lama padam. Laki-laki itu pergi tanpa bercinta namun kehadirannya menggoreskan kembali keindahan cinta di hatinya. Ia telah jatuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama.
Dia juga teringat akan Dora, sahabat sekaligus musuh akrabnya. “Saya tidak tahu dari mana Dora dapat nomorku. Dia menghubungiku dua hari yang lalu,” kata-kata laki-laki itu terngiang kembali di telinganya. Dia belum bisa percaya kalau Doralah yang membawa laki-laki itu menginjakkan kakinya di kamarnya dan yang membangkitkan harapan baru di dalam dirinya.
Dulu Dora membuatnya terbuai dalam mimpi-mimpi semunya akan keindahan miliknya. “Keindahan jadi sia-sia kalau tidak untuk kenikmatan.” Kata-kata Dora ini membuatnya terbuai, sedemikian terbuainya, sampai-sampai dia enggan untuk terjaga karena dia tahu hidupnya terasa lebih indah di alam mimpi.
“Kadang kita harus bangun dari tidur untuk menjadikan mimpi-mimpi kita kenyataan. Tetapi kadang kita juga perlu bangun dari tidur, dek, agar kita segera menyadari bahwa semua keindahan itu mungkin hanya mimpi.” Laki-laki itu pernah berusaha membuat dia sadar bahwa dia sedang terbuai dalam mimpi semunya. Namun sayangnya buaian mimpi semunya terlalu menggiurkan. Rayuan maut Dora akhirnya memenangkan hatinya.
Dan kini Dora berulah lagi. Dora menghadirkan kembali laki-laki pujaan hatinya di dalam kisah hidupnya. Laki-laki itu datang membawa janji tentang cinta tanpa pamrih. Tetapi, apakah dia masih layak mendamba cinta tulus tanpa pamrih setelah dirinya sendiri ternoda dalam nista? Hati kecilnya mendamba jawaban iya walaupun dia tahu, dia jauh dari kata layak untuk mendapatkan cinta seperti itu.
Dan sore itu, sebelum mentari mengucapkan selamat malam kepadanya, sebelum selimut malam melayang menaungi jagad dengan kelamnya, Gadis itu telah bulat dalam tekad. Ia tidak akan menodai kesucian cintanya dengan hidupnya, dengan dirinya, dan dengan tubuhnya yang telah dilumuri dosa. Gadis itu memejamkan matanya ketika mentari beranjak ke peraduannya. Ia siap menyambut mentari pagi di hari berikutnya.
Hari berikutnya.
Pagi masih temaram. Mentari belum menyembul di balik bukit itu. Tetapi Gadis itu sudah terjaga. Ia tersenyum bahagia. Ia menikmati pergantian waktu. Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam. Hingga akhirnya, ketika pagi tidak lagi temaram karena mentari yang tersenyum menatap bumi dari balik bukit, Gadis itu bergegas turun dari ranjangnya. Ia melangkah ke jendela, menyibakkan kain gorden, dan membiarkan sinar matahari pagi menjenguk kamarnya. Ia menanggalkan seluruh pakaiannya sehingga mentari pagi dengan leluasa mengusap mulus tubuhnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ia tersenyum menyambut mentari.
Lalu, ia berbalik, berjalan perlahan ke arah meja kecil dekat ranjangnya. Diambilnya sebuah bungkusan berisi serbuk hitam, dituangkannya ke dalam sebuah gelas berisi air putih, dan diteguknya sampai tegukan yang terakhir. Ia melangkah lagi ke jendela, menatap mentari dengan mesranya dan tersenyum padanya untuk yang terakhir kali.
Lalu, ia berbalik, berjalan perlahan ke arah ranjangnya, dan berbaring di situ dalam damai, untuk selamanya.
Nama gadis itu Amanda.
(Nama Amanda berasal dari Bahasa Latin, dari kata Amor, artinya Cinta. Amanda secara harafia berarti “Dia yang patut dicintai”)