
Mencoba, itulah satu-satunya hal yang mau saya lakukan pada awalnya. Yah hanya itu, mencoba. Tapi masa depanku hampir saja hancur berantakan karena tindakan itu. Percobaan pertama yang saya buat adalah berandai. Yah, saya mencoba berandai-andai. Mulai dengan seandainya saya punya banyak uang, lalu rumah mewah, lalu mobil mewah, lalu istri cantik dan keluarga bahagia. Lalu muncul ide itu, saya tidak boleh berhenti hanya dengan mengandai. Saya bisa berbuat sesuatu. Lalu saya melakukan percobaan kedua. Mencoba meminjam.
Dikampungku ada seorang kaya yang terkenal murah hati memberi pinjaman tapi bengis saat menagih kembali. Itu semua tak saya hiraukan. Yang penting saya bisa punya uang, pikirku. Lalu saya mulai meminjam. 1 juta, 2 juta, 5 juta, 7 juta, 10, dan akhirnya pinjaman itu mencapai tiga angka di depan kata juta. Dan sambil meminjam saya mencoba. Mencoba berbisnis. Dari yang kecil-kecilan, naik ke menengah, sampai ke bisnis besar, pun pula yang dibesar-besarkan.
Baru saya menyadari, saya terlalu jauh mencoba. Bisnis yang dari hasil mencoba-coba itu hancur berantakan. Utangku bertumbuh karena berbunga. Dan ketika saya memutuskan untuk berhenti mencoba, semua sudah terlambat. Hoby mencobaku boleh berhenti tetapi tagihan bengis dari yang memberi pinjaman tidak. Terali besi dan siksaan pedih menantiku.
Malam itu, ketika suara derap-derap kaki mendekati pintu rumahku dan bunyi tiga kali ketukan di pintu menghampiri telingaku, saya sadar bahwa 15 menit setelah ini saya akan menjadi penghuni penjara. Saya membuka pintu dengan ragu dan tetap saja terkejut walaupun sudah kureka bahwa yang datang adalah mereka yang hendak menangkapku. Tatapan mereka bengis mengejek tapi anehnya di tangan mereka tidak ada rantai dan pentungan.
Dalam genggaman tangan orang paling depan ada selembar kertas putih. Sambil melambai-lambaikan kertas itu di depan wajahku dia berkata sinis: “untung nasib mujur masih rela menghampirimu”.
“Mmmmaksudmu…? Sssaya tidak mengerti”.
Orang itu menunjukkan kertas itu padaku,:”hutangmu lunas dibayar orang lain.”
“Sssiapa… dan bagaimana mungkin….?” Saya masih belum percaya.
“Ikuti kami….!”
Kami menuju ke penjara, tempat dimana saya semestinya melalui malamku. Di dalam sebuah kamar sempit dan gelap tergeletak tubuh lemah berlumur darah. Tak dapat kubayang sudah berapa cambukan mendera tubuhnya. Tapi saya masih belum mengerti kenapa saya dibawa ke orang itu.
“Dia itu yang membayar semua utangmu.” Saya seolah tak percaya pada pendengaranku sendiri.
“Jjjjadiii jaadiii……”.
“Iya, dia tidak menebusmu dengan uang. Dia memilih menanggung siksaan dan deraan yang seharusnya kau tanggung.”
Lututku tiba-tiba saja goyah. Airmataku mengalir deras di pipiku.
“Antarkan saya padanya…..tolong, antarkan saya padanya,” pintaku.
Dia belum sadarkan diri. Bilur-bilur tubuhnya mengalir darah. Dan dia seolah tidak mendengar ratapku yang tak bersuara. Tak ada lagi yang dapat kubuat untuknya, walaupun itu sekedar membisikan kata terima kasih.
Tetapi kemudian saya seolah mendapatkan kekuatan baru. “Antarkan saya ke rumahnya…”, pintaku. Mungkin ada yang bisa kulakukan bagi sanak keluarganya, pikirku.
Dan mereka ikhlas membawaku ke sana. Ketika kami sampai, saya seolah tak mampu percaya pada penglihatanku sendiri. Di hadapanku berdiri rumah megah dan mewah bagai istana. Para pelayan berjalan hilir mudik di dalam rumah bagai dayang-dayang. Dan di samping rumah berjejer rapih belasan mobil kelas atas. Saya menoleh ke orang-orang yang menghantarku dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Dia memiliki segalanya. Dia mampu membayar hutang-hutangku, bahkan dilipat sepuluh kali pun belum ada arti baginya. Tetapi kenapa dia mau melakukan hal konyol itu….? Pertanyaan-pertanyaan ini spontan terucap dari mulutku. “Katanya dia mencintaimu,” jawab mereka.
P. Mans Wenge CSsR