PREFIERO EL PARAISO – SAYA MEMILIH SURGA (Kisah Hidup Sr. Clare Crockett)

SR-CLARE“Saya mau jadi suster,” kata Clare muda yang baru memasuki usia 17 tahun. Ucapannya itu langsung disambut derai tawa teman-temannya yang tidak percaya akan apa yang baru saja mereka dengar. Betapa tidak, Clare mengucapkan empat kata itu sambil jemari tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang asapnya masih mengepul dan jemari tangan kirinya menggenggam sebotol bir yang isinya sudah separuh ludes. Mendengar kata-kata itu, teman-temannya, yang waktu itu kondisinya tidak lebih baik dari Clare yakin kalau bukan Clare tapi bir-lah yang baru saja berbicara.

Mereka semua salah.

Clare mewujudkan niatnya setahun sesudahnya. Pada tanggal 11 Agustus 2001, Clare melamar masuk menjadi anggota Kongregasi Servant Sisters of the Home of the Mother. Lima tahun setelah itu, tepatnya pada tanggal 18 February 2006, ketika Clare mengucapkan kaul pertamanya dan karena itu resmi di panggil Suster Clare, teman-temannya tahu, empat kata yang dia ucapkan di atas tempat tidur di dalam kamar hotel setelah sesi shooting film yang panjang pada dini hari itu bukan berasal dari bir yang baru saja mereka teguk. Kata-kata itu murni hasil bisikan Roh Kudus.

hermana-clare

Clare waktu masih kecil

Clare lahir dari pasangan katolik yang hidup di Derry, Irlandia Utara pada tanggal 14 November 1982. Sebagaimana anak-anak katolik yang lain, Clare dibaptis, menerima komunio pertama dan kemudian menerima sakramen Krisma. Setelah itu, yang Clare ingat dia jarang sekali ke gereja. Dia tidak pernah mendapat pelajaran agama Katolik di Sekolah dan dengan tidak aktifnya dia di gereja, pengetahuan imannya sangat sangat terbatas.

Clare bertumbuh menjadi gadis muda yang tidak hanya cantik tetapi juga mempunyai mimpi yang besar. Dia ingin menjadi kaya dan terkenal. Dan dia mempunyai segala hal untuk menjadikan mimpinya keyataan. Dia cantik, pintar dan membunyai bakat alamiah yang luar biasa dalam hal akting dan musik. Dia bercita-cita menjadi artis terkenal bahkan bermimpi untuk bisa terbilang di antara para artis Hollywood.

27471312971_c12f90a7c5

Clare (sebelah kiri) dan teman-temannya

Ketika memasuki usia 15 tahun, Clare muda mendapat kontrak untuk menjadi host di acara anak muda yang ditayangkan di Channel 4, channel TV terbesar di Inggris. Selain itu dia juga mulai dilirik para produser film. Kehidupan Clare perlahan-lahan mulai mengikuti gaya para artis. Dia mulai mengenal alkohol, dia ikut dengan teman-temannya berpesta pora dan mabuk-mabukan di bar, juga mulai mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Ketika memasuki usianya yang ke 17, chanel TV Amerika Nickelodeon mulai menaruh minat padanya. Clare menyadari cita-citanya untuk menjadi bintang film Hollywood tampaknya akan segera jadi kenyataan.

Pada tahun 2000, beberapa minggu sebelum pekan suci seorang temannya menawarkan Clare untuk ikut dalam sebuah tour ke Spanyol. Mendengar kata Spanyol Clare langsung membayangkan pantai pasir putih di Ibiza juga kehidupan malamnya yang glamour. Clare langsung menjawab IYA pada tawaran temannya apalagi setelah tahu bahwa perjalanan itu dibiayai group yang mengajak mereka.

Temannya memberi sebuah alamat pada Clare dengan pesan agar dia mencari alamat itu untuk mengambil tiket yang sudah dibooking atas namanya. Ketika sampai di alamat yang bersangkutan Clare kaget, ternyata orang-orang yang ada di tempat itu tidak hanya orang muda. Bahkan lebih banyak orang tua. Dan yang lebih aneh lagi, mereka sedang berdoa rosario.

8261535084_8ddfe82475

Biara tempat Clare dan rombongan mengikuti retreat pekan suci

Kemudian baru dia tahu kalau perjalanan itu adalah perjalanan ziarah rohani, bukan tour wisata seperti yang dia bayangkan. Dia ingin membatalkan niatnya tapi tiket sudah dibooking atas namanya. Dia akhirnya tetap ikut dalam rombongan itu walaupun tidak dengan sepenuh hati. Tujuan mereka adalah biara para suster Servant Sisters of the Home of the Mother di Spanyol karena di sanalah rombangan itu akan menjalani retreat selama pekan suci.

Selama hari-hari pertama retreat, hari-hari pertama pekan suci, sementara anggota rombongan yang lain mendengar renungan di biara, Clare selalu mencari waktu untuk menyelinap dari  sesi renungan dan pergi duduk di sebuah sudut di biara itu untuk menikmati rokoknya. Kadang dia terpaksa duduk di antara orang-orang yang mendengarkan permenungan dari pembimbing retreatnya tetapi rokoknya tidak pernah lepas dari tangannya. P. Rafael Alonso, pembimbing retreat saat itu yang adalah juga pendiri kongregasi yang kemudian Clare menjadi salah satu anggotanya, memberi kesaksian bahwa ketika dia bertanya pada Clare apa itu Ekaristi, Clare mencabut rokok dari bibirnya, menyemburkan asapnya cepat-cepat dan menjawab dengan balik bertanya: “Ekaristi? Apa itu?”

Pada hari Jumat pagi, hari Raya Jumat Agung, seorang suster mendekatinya dan berkata: “Clare, sore ini engkau harus ada di Kapel. Hari ini ada ibadat Jumat Agung”. Clare berpikir tidak ada salahnya kalau dia ikut satu atau dua hari dari kegiatan retreat mereka karena dia memang dibiayai untuk itu. Maka sore itu, ketika ibadat Jumat Agung dimulai Clare memlilih duduk di bangku paling belakang sambil mengikuti saja apa yang dibuat oleh teman-temannya dan para suster dari biara itu.

Ketika tiba saatnya untuk penciuman salib, Clare ikut dalam rombongan orang-orang yang berarak ke depan altar di mana semua orang satu persatu berlutut dan mencium salib Yesus. Clare ingat, ketika tiba gilirannya, dia berlutut, dan ketika dia menatap salib itu, dia melihat luka di kaki Yesus yang tersalib, juga luka di lambung dan di tangan-Nya. Entah kenapa tiba-tiba saja matanya berlinang air mata. Dia tiba-tiba saja tersentak oleh rasa bersalah yang dalam. “Semua ini karena saya,” pikiran ini terus menerus mengusik batinnya.

cruz_que_beso_375

Salib Yesus yang dicium Clare

Moment luar biasa itu hanya terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu menit tetapi justru menjadi moment yang dikenang Clare seumur hidupnya. Dia ingat setelah dia mencium salib Yesus, dia kembali ke tempat duduknya di bangku paling belakang di dalam kapel itu dan menangis tersedu-sedu. Bahkan setelah ibadat, dia pergi ke sudut biara tempat yang biasa dia pakai untuk merokok, dan di sana dia masih merenungi apa yang baru saja dia alami dan menangis lagi.

Seorang suster yang kebetulan lewat mendapati Clare sedang menangis tersedu-sedu dan diselah tangisannya itu dia berucap seperti bertanya pada diriya sendiri: “Dia disalibkan untuk saya, dia mati untuk saya, kenapa saya masih begini?”

Kisah tentang Clare yang menangis sampai ke telinga Pater Rafael yang kemudian mengajak Clare untuk berbicara secara pribadi dengannya. Di akhir percakapannya itu Pater Rafael menawarkan Clare untuk ikut World Youth Day di Roma, menjadi bagian dari rombongan para suster Servant Sister of the Home of The Mother. Sama seperti perjalanannya ke Spanyol, Clare yang tidak tahu apa itu World Youth Day menyatakan IYA pada tawaran itu karena membayangkan perjalanan gratis ke Roma dan tempat wisata yang bakalan dia kunjungi.

Maka di tahun yang sama, setelah kembali ke Irlandia, Clare lalu ke Roma bergabung dengan rombongan para suster dari kongregasi yang didirikan Pater Rafael untuk ikut dalam World Youth Day. Sebelas tahun kemudian, Clare yang saat itu sudah jadi suster, diundang untuk memberikan kesaksian di hadapan orang muda yang mengikuti Wolrd Youth Day di Spanyol pada tahun 2011. Pada kesempatan itu Clare mensharingkan cerita lucu tentang pengalamannya mengikui World Youth Day di Roma pada tahun 2000.

Waktu itu, para suster, teman-teman serombongannya ramai-ramai membeli rosario, buku doa atau gambar kudus. Sedangkan yang dibeli Clare adalah sebuah pemantik berbentuk seperti closet yang kalau dipencet nyala api akan keluar dari lubang closet dan juga sebuah gelang berwarna campuran oranye dan hitam dengan tulisan China yang dari penjualnya dia tahu bahwa itu artinya: “meningkatkan vitalitas”. Ketika teman-teman serombongannya ramai-ramai membawa barang yang mereka beli untuk diberkati pastor, Clare berkutat dengan dirinya sendiri apakah dia harus membawa dua barang itu untuk diberkati pastor atau tidak.

roma2000

Clare waktu mengikuti World Youth Day di Roma

Satu pengalaman lain yang Clare share pada waktu itu yang dia akui sebagai bukti bahwa Tuhan memang tidak pernah menyerah adalah ketika dia dan teman-teman rombongannya (para suster) berada di dalam bis kembali ke tempat penginapan mereka. Waktu itu para suster banyak yang terlelap karena lelah, tinggal Clare sendiri yang sedang ashyik mendengarkan musik dari headsetnya. Tiba-tiba sebuah pikiran muncul di benaknya dan terasa begitu kuat seperti ada yang sedang berbisik di telinganya ajakan ini: “Engkau harus menjadi salah satu dari mereka.” Clare ingat, dia dengan tahu dan mau menaikkan volume musik agar (menurut bahasanya sendiri) suara Tuhan bisa kalah bersaing dengan kerasnya suara musik di headsetnya. Tetapi kemudian dia akui, suara musik hanya masuk ke telinganya, sedangkan suara Tuhan masuk ke pikiran dan hatinya.

Tetapi, ketika Clare kembali ke Irlandia setelah World Youth Day di Roma, kehidupannya kembali seperti semula, kehidupan di antara botol-botol alkohol, pesta pora dan mabuk-mabukan. Dia ingat pada suatu malam dia minum lebih banyak dari biasanya, terlalu banyak sampai-sampai dia mabuk parah dan terbaring tidak sadarkan diri di toilet bar. Tetapi justru pada moment saat dia lemah dan tak berdaya itulah dia seolah-olah mendengar suara seperti ada yang berbisik padanya: “mengapa engkau masih menyakitiKu juga?” Dia mencoba mencari siapa yang berbisik tetapi dia tidak menemukan siapapun didekatnya saat itu. Clare menggambarkan moment yang dia alami saat itu sepeti adegan di film The Passion of Christ karya Mel Gibson dimana kepada Yudas yang datang menciumNya di taman Getsemani Yesus, dengan tatapan penuh kasih berkata: “Sahabat, kenapa engkau berbuat seperti ini padaku?”

Clare masih belum mengerti apa arti semua itu, Tuhan juga tidak mau menyerah. Di awal tahun 2011 Clare diminta ikut bermain di sebuah film yang akan ditayangkan di chanel TV di Inggris. Untuk itu dia harus ke Inggris, tinggal di hotel mewah bersama dengan para artis dan aktor terkenal, makan makanan mewah, dan kemana-mana diantar sopir dengan mobil mewah pula. Dia merasa sudah memiliki segala sesuatu tetapi di kedalaman hatinya sendiri yang dia sendiri tidak tahu entah dimana, dia merasa ada yang kosong, dan kekosongan itu menyiksa dirinya. Clare yakin kekosongan itu harus diisi dan dia tahu apa yang akan dia buat. Sebagai orang Irlandia sejati, dia tidak mau setengah-setengah. Prinsipnya, all or nothing, semuanya atau tidak sama sekali.

Maka….

Dia ingat betul apa yang terjadi di malam itu, atau tepatnya dini hari. Dia sudah begitu tersiksa dengan kekosongan yang dia rasakan di hidupnya. Dan pagi itu, setelah menghabiskan malam dengan botol-botol bir di bar hotel, Clare dan teman-temannya pulang ke kamar hotel dalam keadaan setengah mabuk. Di dalam kamar hotel itulah, dengan sebatang rokok di tangan kiri dan botol bir yang isinya hampir habis di tangan kanan, dia mendapat keberanian menyampaikan niatnya pada teman-temannya. “Saya mau jadi suster,” katanya. Dia siap melepaskan segalanya. All or nothing. Seutuhnya atau tidak sama sekali.

Clare melamar masuk jadi anggota para suster Servant Sisters of the Home of the Mother, diterima pada tanggal 11 Agustus 2001, dan setelah menempuh 5 tahun persiapan, dia akhirnya mengikrarkan kaul pertama dan resmi dipanggil Sr. Clare SHM pada tanggal 16 Februari 2006. Empat tahun kemudian, mewujudnyatakan prinsipnya all or nothing, Sr. Claire menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan seumur hidupnya dengan mengkirarkan kaul kekal pada tanggal 8 September 2010.

biografia_ninos_ecuador_1000

Sr. Clare bernyanyi bersama anak-anak di Guayaquil – Equador

Dua tahun setelah mengikrarkan kaul kekal, Sr. Clare ditempatkan di sebuah komunitas di Guayaquil – Equador, komunitas yang baru saja didirikan oleh kongregasi mereka sebagai komunitas yang kedua setelah di Playa Prieta. Komunitas itu berada di daerah miskin. Di sana tugasnya yang paling utama adalah menjadi guru di beberapa sekolah miskin. Dengan bakatnya di bidang teater dan musik, Sr. Clare segera menjadi suster dan guru favorit di hati anak-anak.

biografia_nino_ecuador_1000

Anak-anak selalu merasa nyaman berada dekat Sr. Clare

Ketenarannya di Guayaquil sampai ke telinga pimpinan mereka di Playa Prieta. Dari Guayaquil Sr. Clare diminta untuk pindah ke Playa Prieta untuk melayani di sekolah milik kongregasi mereka, Holy Family Education Centre. Di sana, sekali lagi, karena bakat musik dan aktingnya, Sr. Clare dengan segera mendapat tempat di hati anak-anak. Di tempat itu tidak sedikit pula anak-anak gadis yang kemudian tertarik menjadi suster karena mendapat inspirasi dari gaya melayani Sr. Clare yang khas.

Sr. Estela Morales, Salah seorang teman dari Suster Claire suka menulis puisi. Pada suatu hari dia memberikan Sr. Claire sebuah puisinya yang berjudul Prefiero el Paraiso (Saya memilih surga). Beberapa minggu kemudian ketika Sr. Clare mengembalikan puisi itu ke Sr. Estela, puisi itu sudah jadi lagu. Sebagian dari puisi Sr. Estela yang diubah jadi lagu oleh Sr. Clare berbunyi: “Bunda kita terseyum sambil memeluk putri kecilnya. Saya memilih surga, tangis putri itu dari hatinya. Dan ketakutan pun lenyap: ketakutan untuk memberi diri, ketakutan untuk berpasrah. Karena mati berarti memasuki hidup yang baru”. Sr. Clare tidak pernah membayangkan kalau lagu itu bakalan dinyanyikan di misa penguburannya.

Sore itu, Sr. Clare bersama dengan tiga teman susternya dan tujuh calon suster baru saja selesai latihan gitar. Mereka biasanya berhenti latihan beberapa menit sebelum jam tujuh malam karena akan ada doa rosario bersama di kapela di lantai bawah pada jam 7 malam. Dua menit sebelum rosario dimulai, mereka merasakan guncangan hebat yang menggentarkan ruangan tempat berkumpul. Sebelum mereka sempat menyadari apa yang terjadi, gedung besar tiga lantai itu ambruk dan menimbun semua orang yang ada di dalamnya. Playa Prieta baru saja diguncang gempa hebat demikian kata berita di televisi di sore itu.

Jam 3 pagi hari berikutnya, ketika pimpinan Sr. Clair di Spanyol mendengar berita tentang gempa bumi itu, dia memutuskan untuk membangunkan semua suster yang ada di biara itu dan mulai berdoa. Saat mereka mulai berdoa, di belahan bumi yang lain, team penyelamat sedang bekerja keras mencoba membongkar puing-puing bangunan sekolah yang runtuh dan mencoba menyelamatkan 4 suster dan 7 calon suster yang masih terjebak di dalamnya. Suster pimpinan berdoa sambil tetap menanti dengan siaga setiap kali telpon rumah biara berdering. Pada deringan yang pertama dia mendapat kabar bahwa tiga suster dan dua orang calon suster berhasil dievakuasi dari runtuhan bangunan dalam keadaan selamat. Satu-satunya suster yang masih terjebak adalah Sr. Clare bersama dengan lima orang calon suster. Ketika hari agak siang, telpon biara berdering lagi. Beberapa menit kemudian suster pimpinan menyampaikan berita yang baru saja dia terima pada para suster yang lain dengan berlinang air mata. Jenazah Sr. Clare dan lima calon suster yang lain baru saja ditemukan.

ecuador-earthquake

Gedung sekolah yang rubuh menimpah Sr. Clare dan teman-temannya

Para suster dan calon suster yang selamat kemudian memberi kesaksian di hari penguburan Sr. Claire dan para calon suster yang meninggal bahwa lagu yang terakhir dinyanyikan oleh Sr. Claire pada saat mereka latihan gitar sebelum doa rosario adalah Prefiero el Paraiso (Saya memilih surga). Dan sekarang Sr. Claire telah mendapatkan sepenuhnya apa yang jiwanya ingin dapatkan. All or nothing. Semuanya atau tidak sama sekali.

uneral78711244jpg

Misa penguburan Sr. Clare di tanah kelahirannya sendiri , Derry – Irlandia

“Bunda kita terseyum sambil memeluk putri kecilnya. Saya memilih surga, tangis putri itu dari hatinya. Dan ketakutan pun lenyap: ketakutan untuk memberi diri, ketakutan untuk berpasrah. Karena mati berarti memasuki hidup yang baru”

Film Documenter tentang Kisah Hidup Sr. Clare

 

P. Mans Wenge CSsR

Sydney – Australia

Unknown's avatar

About Berkhmans

Melalui blog ini saya mau membagi pengalaman dan refleksi saya di dalam pergulatan hidup di dunia ini dan di dalam perjuangan memahami kehendak Allah dan semakin dekat pada-Nya dari hari ke hari.
This entry was posted in Sharing Cerita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply